Ramadhan adalah bulan suci yang selalu dinantikan oleh umat muslim di seluruh dunia. Berbagai tradisi menjelang Ramadhan dilakukan dengan cara yang unik dan berbeda-beda.
Di Lampung Tengah, tepatnya Desa Jati Datar, Bandar Mataram, masyarak suku Jawa melakukan persiapan menyambut bulan suci Ramadhan dengan menggelar tradisi mengirim doa dan membuat nasi sedekahan. Tradisi ini disebut Ruwahan.
Saat Ruwahan berlangsung, warga akan membagikan nasi lengkap dengan lauk pauk dan memberikannya kepada warga sekitar. Sebagian warga menggelar tradisi Ruwahan dengan mengundang tetangga untuk berdoa bersama di rumahnya.
Dalam tradisi Ruwahan, menu utamanya adalah kue apem goreng, yakni kue khas simbol permohonan ampun untuk diri sendiri serta keluarga yang telah lebih dulu pulang.
Di dalam wadah berkat itu ada nasi putih, telur rebus, gudangan/urapan, bacem, dan osengan, yang kesemuanya menyimpan makna, doa, dan harapan.
Setiap warga memilih tanggal berbeda-beda untuk melaksanakan Ruwahan, biasanya tanggal-tanggal ganjil bulan Ruwah kalender Jawa.
Tradisi Ruwahan dibawa oleh para sesepuh transmigrasi dari Gunung Kidul, Yogyakarta, sekitar tahun 1960. Sebuah tradisi turun-temurun yang tetap dijaga kelestariannya. Sederhana caranya, tapi hangat rasanya.
Kalau di Lampung tradisi Ruwahan masih dijalankan, lalu kebiasaan unik apa yang dilakukan menjelang Ramadhan di daerahmu? (RM)


Posting Komentar untuk "Ruwahan, Tradisi Yang Dibawa Sejak Transmigrasi 1960 Masih Lestari Hingga Kini"